Search

Loading...

Sunday, August 4, 2013

Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain - Part 1

Prinsip-prinsip dalam artikel ini saya ringkas dari buku How to win Friends and Influence People. Yeah, mungkin beberapa dari anda pernah membaca buku ini. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1937 dalam satu edisi yang hanya berjumlah lima ribu eksemplar. Disamping buku Think and Grow Rich karya Napoleon Hill dan The power of Positive Thinking karya Norman Vincent Peale, buku How to Win Friends and Inflence People adalah buku yang wajib dibaca oleh orang-orang yang ingin mencapai sukses plus kebahagiaan dalam hidupnya dan buku-buku tersebut sangat tenar pada awal abad ke-20 hingga sekarang karena telah menunjukkan jalan yang praktis dan efektif bagi banyak orang yang telah membacanya. Buku yang ditulis oleh Dale Carnagie ini telah diterjemahkan kedalam 37 bahasa dan telah terjual sebanyak 15 juta eksemplar di seluruh bumi ini. Jadi, sudah tidak ada keraguan lagi bahwa buku ini adalah buku yang sangat bagus. Kemudian, manfaat apa yang ditawarkan oleh buku ini?

  1. Mengeluarkan anda dari kebiasaan mental yang buruk, memberi anda gagasan baru, visi baru dan ambisi baru.
  2. Membuat anda mudah dan cepat berkawan.
  3. Memikat orang lain mengikuti cara berpikir anda.
  4. Meningkatkan pengaruh, prestise, kemampuan anda untuk menyelesaikan segala sesuatu.
  5. Memungkinkan anda memperoleh klien dan pelanggan baru.
  6. Meningkatkan kemampuan anda dalam memperoleh penghasilan yang lebih besar.
  7. Menjadikan anda wiraniaga, manager atau eksekutif yang lebih baik.
  8. Menjadikan anda pembicara yang lebih baik dan lebih menyenangkan.
  9. Membangkitkan antusiasme di antara rekan usaha.

Oke, cukup perkenalan dengan bukunya, mari kita mulai. Apakah anda merasa bahwa anda tidak pandai berkawan, tidak pandai berbicara, sering gugup menghadapi orang dan tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup? well, anda berada di tempat yang tepat, keep reading.
Seperti yang kita tahu, tuntutan zaman kini semakin ekstrim, persaingan semakin ketat, bagi yang tidak memiliki kemampuan untuk survive, well mereka akan tersisih. Jika anda ingin menghindari hal itu, mungkin artikel saya ini dapat membantu anda, bagi anda para marketing, prinsip-prinsip ini dapat membantu anda mendapatkan klien dan pelanggan baru, bagi anda para almost-broken-home-family, prinsip-prinsip ini bisa memulihkan hubungan keluarga anda, bagi anda para pemalu, prinsip-prinsip ini dapat membuat anda lebih percaya diri dan bagi yang lainnya, saya yakin anda dapat memperoleh manfaat dari prinsip-prinsip ini.

Prinsip apa sajakah itu? Well, buku ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama mengajarkan tentang Teknik-Teknik Dasar Menangani Dalam Manusia, bagian kedua mengajarkan tentang Enam Cara Untuk Membuat Orang Lain Menyukai Anda, then bagian ketiga mengajarkan tentang Bagaimana Memikat Orang Lain Mengikuti Cara Berpikir Anda dan bagian terakhir dari buku ini mengajarkan tentang Bagaimana Mengubah Orang Lain Tanpa Menyinggung atau Membangkitkan Kemarahan. Disini, posting kali ini saya akan membahas bagian pertama dahulu. Tiap bagian akan saya bahas dalam posting yang berbeda yang dapat ditemukan dalam blog ini.

Bagian Satu : Teknik-Teknik Dasar Dalam Menangani Manusia

Inti dari bagian pertama buku ini adalah mengajarkan anda cara bagaimana agar tidak berposisi sebagai lawan bagi orang lain, namun sebaliknya yaitu kawan.

Prinsip 1 : Jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh.

Kritik adalah hal yang sia-sia karena menempatkan seseorang dalam posisi defensif dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Dengam Mengkritik, kita tidak membuat perubahan yang langgeng dan seringkali malah menimbulkan rasa benci. Rasa benci yang ditimbulkan oleh kritik dapat menurunkan semangat.

Kritik yang pedas hampir selalu berakhir dengan sia-sia. Banyak peristiwa sejarah yang telah membuktikannya. Sebagai contoh, kita ambil pertengkaran antara Theodore Roosevelt dan Presiden Taft, pertikaian yang memecahkan partai Republik, yang menempatkan Woodrow Wilson di Gedung Putih dan tercatat jelas sepanjang masa Perang Dunia Pertama yang merubah arus sejarah. Mari kita lihat faktanya. Ketika Theodore Roosevelt melangkah keluar dari Gedung Putih tahun 1908, dia mendukung Taft, yang terpilih sebagai Presiden. Kemudian Theodore Roosevelt berangkat ke Afrika untuk berburu singa. Ketika dia pulang, dia meledak. Dia mengkritik Taft untuk sikap konservatifnya, berusaha sendiri untuk mengamankan nominasi untuk masa pencalonan presiden yang ketiga kalinya, membentuk partai Bull Moose dan semua hal lainnya kecuali menghapuskan G.O.P. dalam pemilihan selanjutnya, William Howard Taft dan partai Republik hanya menang di dua negara bagian, Vermont dan Utah. Kekalahan paling besar yang pernah terjadi pada partai itu. Theodore Roosevelt menyalahkan Taft, tapi apakah presiden Taft menyalahkan dirinya sendiri? Tentu saja tidak. Dengan berlinang air mata, Taft berkata:”Saya tidak melihat kemungkinan lain yang bisa saya lakukan.”
Siapa yang harus disalahkan? Roosevelt atau Taft? Honestly, Saya tidak tahu. Hal pentingnya adalah kritik Theodore Roosevelt tidak membuat Taft mengakui dia salah . kritik ini hanya membuat Taft mempertahankan diri dan dengan berlinang air mata, Taft berkata:”Saya tidak melihat kemungkinan lain yang bisa saya lakukan.”

Sifat manusia, kita yang bersalah menyalahkan orang lain selain diri kita sendiri. Manusia adalah makhluk yang penuh dengan prasangka dan dimotivasi oleh rasa bangga dan sombong.

“Jangan mengkritik mereka, mereka hanya bertindak dengan cara yang sama seperti yang akan kita lakukan kalau kita berada dalam situasi yang sama, jangan menghakimi, maka anda pun tidak dihakimi” – Abraham Lincoln

“Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya, so why should we?” – Dr. Jhonson.

Prinsip 2: Berikan Penghargaan yang jujur dan tulus.
Satu-satunya cara yang bisa menggerakkan orang lain melakukan apapun adalah dengan memberi mereka apa yang mereka inginkan (membuat mereka ingin melakukannya). Apa yang orang-orang inginkan? Beberapa hal yang paling diinginkan oleh manusia adalah termasuk:
1.     Kesehatan dan pemeliharaan kehidupan
2.    Makanan
3.    Tidur
4.    Uang atau barang-barang yang dapat dibeli dengan uang.
5.    Kehidupan di alam baka
6.    Kepuasan seksual
7.    Kesejahteraan anak-anak kita
8.    Kebanggan sebagai orang penting.
Hampir semua keinginan ini dapat dipuaskan, semuanya kecuali satu, yaitu kebanggan sebagai orang penting. Freud menyebutnya “hasrat menjadi besar”, Dewey menyebutnya “hasrat menjadi penting”, adapun willian James berkata: “Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.” Ia tidak menyebutnya sebagai satu “harapan” atau “hasrat” atau “dambaan” untuk dihargai. Dia mengatakan “kebutuhan” untuk dihargai. Mengapa? Karena desakan yang paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk menjadi penting/besar.

Hasrat untuk menjadi penting adalah salah satu perbedaan nyata antara manusia dengan binatang. Sebagai contoh: tatkala Dale Carnegie masih sebagai anak petani di Missouri, ayahnya memelihara babi Duroc-Jersey yang baik dan turunan ternak bermuka-putih. Mereka biasa memamerkan babi-babi dan ternak bermuka-putih mereka pada perayaan-perayaan kampung dan pameran-pameran ternak diseluruh Middle West. Mereka memenangkan hadiah pertama. Ayah Dale Carnegie memasang pita birunya pada sehelai muslin putih, dan tatkala kawan-kawan atau para pengunjung berdatangan ke rumah, dia akan mengeluarkan helai kain muslin intu. Ayahnya akan memegang satu ujungnya dan Dale akan memegang ujung yang lainnya manakala dia memamerkan pita-pita biru itu.
Babi-babi itu tidak peduli tentang pita yang mereka menangkan. Tapi Ayahnya peduli. Hadiah-hadiah ini memberikannya satu rasa penting.

Cara bagaimana anda memperoleh perasaan penting menentukan karakter anda. Satu hal yang paling diabaikan dari keberadaan kita di dunia ini adalah penghargaan. Manusia bisa benar-benar menjadi gila ketika mereka merasa diabaikan dalam dunia nyata (tidak mendapatkan rasa penting/penghargaan). Kalau demikian, bayangkan keajaiban apa yang dapat diperoleh dengan memberikan pada mereka penghargaan yang jujur dan tulus. Penghargaan dapat membuat seseorang merasa dirinya penting.
Penghargaan yang tulus dan jujur merupakan salah satu rahasia sukses dan mampu mengubah hidup seseorang. Penghargaan yang jujur dan tulus membawa hasil sedangkan kritik dan cemoohan gagal mendapatkannya.

Sifat manusia, mereka lapar akan penghargaan. Mereka berhasrat untuk menjadi penting dan besar dan dihargai.

“Saya menganggap kemampuan saya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain adalah aset paling besar yang saya miliki dan cara saya mengembangkan hal terbaik dalam diri seseorang adalah dengan menghargai dan mendorong semangatnya.” – Charlse Schwab

“Setiap orang yang saya jumpai adalah lebih baik dari saya dalam hal tertentu. Dengan cara itu, saya belajar tentang dirinya.” – Emerson

Tips: carilah hal baik dalam diri mereka yang tidak dimiliki oleh orang lain dan pujilah hal itu. Katakan anda mengaguminya.

Prinsip 3: Bangkitkan minat dalam diri prang lain.

Setiap tindakan yang pernah kita lakukan sejak hari kelahiran, dilakukan karena kita menginginkan sesuatu. Andrew Carnegie, seorang anak Skotlandia yang sangat miskin yang memulai bekerja dengan upah dua sen per jam dan akhirnya menyumbangkan $365 juta, belajar lebih dini tentang kehidupan bahwa satu-satunya cara untuk mempengaruhi orang lain adalah berbicara tentang apa yang mereka inginkan dan menunjukkan kepada mereka bagaimana memperolehnya. Harry A. overstreer dalam bukunya yang memberi penerangan Influencing Human Behaviour berkata: “Tindakan keluar dari apa yang secara mendasar kita harapkan … dan nasihat terbaik yang bisa diberikan kepada para calon-pembujuk, baik dalam bisnis, di rumah, di sekolah, dalam politik adalah: bangkitkan hasrat orang lain. Dia yang bisa melakukan hal ini memiliki seluruh dunia bersamanya. Dia yang tidak bisa, akan berjalan di jalan yang sempit.”

“Kalau ada rahasia mengenai sukses, itu adalah kemampuan utuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang orang lain dan juga dari sudut pandang anda sendiri.” – Henry Ford

Ribuan penjual memenuhi jalan-jalan saat ini, mereka lelah, putus asa dan dibayar murah. Mengapa? Karena mereka hanya selalu berpikir tentang apa yang mereka inginkan. Mereka tidak menyadari bahwa anda dan saya tidak ingin membeli apapun. Kalau kita ingin, kita akan pergi keluar dan membelinya. Namun kita berdua sudah pasti berminat untuk memecahkan masalah-masalah kita. Dan kalau para penjual itu menunjukkan kepada kita bagaimana pelayanan mereka atau barang mereka akan membantu kita memecahkan persoalan, mereka tidak akan perlu menjual kepada kita. Kita yang akan membeli. Dan para pelanggan akan senang memperoleh rasa bahwa mereka dibeli, bukan dijual.
Namun, banyak penjual menghabiskan waktu menjual tanpa melihat segalanya dari sudut pandang si pelanggan. Misalnya, seperti yang diceritakan oleh Dale Carnegie sendiri : “Selama bertahun-tahun saya tinggal di Forest Hills, masyarakat kecil dari perumahan pribadi di pusat Ney York. Suatu hati tatkala saya bergegas menuju stasiun, saya kebetulan bertemu dengan seorang operator real-estate yang telah membeli dan menjual properti dalam area itu selama bertahun-tahun. Dia tahu baik mengenai Forest Hills, maka saya segera menanyakan kepadanya apakah rumah plesteran saya dibangun dengan bilah metal atau ubin berongga. Dia bilang dia tidak tahu, dan dia menyampaikan apa yang sudah saya ketahui, bahwa saya bisa mendapatkan informasi itu dengan menelpon Forest Hills Garden association. Esok paginya, saya menerima surat darinya. Apakah dia memberikan informasi yang saya inginkan? Sebenarnya dia bisa saja memberinya dalam waktu enam puluh detik melalui telepon. Tapi dia tidak melakukannya. Dia menyampaikan kepada saya lagi bahwa saya bisa mendapatkannya dengan menelpon, kemudian dia malah minta menangani asuransi saya. Dia tidak berminat membantu saya. Dia hanya berminat untuk menolong dirinya sendiri.”

J. Howard Lucar dari Birmingham, Alabama, menceritakan bagaimana dua orang penjual dari perusahaan yang sama menangani situasi dengan tipe yang sama. Dia melaporkan: “Beberapa tahun lalu saya berada dalam tim manajemen sebuah perusahaan kecil. Kantor pusat dekat kami adalah kantor distrik dari sebuah perusahaan asuransi besar. Para agen mereka ditugaskan berdasarkan wilayah, dan dua orang agen yang disini saya sebut Carl dan John ditugaskan ke kantor kami. Suatu pagi, Carl sampai di kantor kami dan dengan santai ia menyinggung bahwa perusahaannya baru saja memperkenalkan satu asuransi jiwa baru bagi para eksekutif, dan dia pikir mungkin kami berminat nantinya, maka dia akan kembali menemui kami kalau ada informasi tentang hal itu. Pada hari yang sama, John melihat kami di pinggir jalan, ketika dia hendak kembali dari cafĂ©, dan dia berseru: ‘Hei Luke, tunggu, saya ada berita baik untuk kalian semua.’ Dia bergegas menghampiri kami dan dengan bersemangat menyampaikan tentang asuransi jiwa untuk eksekutif, yang telah diperkenalkan perusahaannya hari itu (Asuransi yang sama yang sudah disinggung oleh Carl dengan santai). Dia ingin kami memperoleh satu yang dikeluarkan. Dia memberi kami beberapa fakta penting tentang ulasannya dan mengakhirinya dengan mengatakan, ‘Polisnya masih baru sekali, saya akan meminta seseorang dari kantor kami untuk datang besok dan menjelaskannya. Sekarang, untuk sementara waktu, mari kita menandatangani surat permohonannya dan sambil jalan bisa memperoleh lebih banyak informasi untuk diselesaikan.’ Antusiasmenya mebangkitkan dalam diri kami minat terhadap asuransi ini, meskipun kami belum mendapatkan rinciannya. Tatkala semuanya disiapkan untuk kami, penjelasan itu menguatkan tentang penjelasan awal John akan polis itu, dan dia tidak hanya menjual polis kepada kami semua tetapi belakangan menggandakan cakupan kami. Carl sebenarnya bisa saja mengadakan penjualan itu, namun dia tidak berusaha keras dalam membangkitkan minat kami untuk membeli polis itu.”

Melihat dari sudut pandang orang lain dan membangkitkan dalam diri rasa ingin memperoleh sesuatu tidak boleh dianggap sebagai memanipulasi orang itu sehingga dia akan mengerjakan sesuatu yang hanya berguna bagi anda dan menyebabkan kerugiannya.

Ekspresi diri adalah kebutuhan dominan dari sifat dasar manusia.

“Orang yang bisa meletakkan diri pada tempat orang lain, yang bisa mengerti cara berpikir mereka, tidak perlu khawatir tentang masa depannya.” – Owen D. Young


Tips: Sebelum anda berbicara dan membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu, berhentilah sebentar dan tanyakan kepada diri anda: “bagaimana saya bisa membuat orang ini melakukannya? Apa yang diinginkannya? Bagaimana saya bisa mengaitkan apa yang saya inginkan dengan apa yang dia inginkan?” Usahakan untuk membicarakan tentang apa yang mereka inginkan atau sukai.
Post a Comment